Rabu, 24 Juli 2013

Kisah Gubernur Jenderal Petrus Albertus Van Der Parra di Pagelaran Rekonstruksi Sejarah

Jakarta - Museum Sejarah Jakarta atau yang dikenal sebagai Museum Fatahillah, pada tanggal 25-26 Juni 2013, menggelar sebuah acara teater lapangan yang lebih sering disebut “Rekonstruksi Sejarah.” Acara tahunan Museum Sejarah Jakarta (MSJ), yang digelar di dalam area MSJ dan halaman museum ini menampilkan berbagai kisah yang terkait dengan sejarah kota Jakarta di masa kolonial Belanda. Karena teater diadakan di halaman MSJ maka sering kali terjadi interaksi secara langsung antara pemain dengan penonton.
Beruntung pada Kamis (26/6), PerspektifNews berkesempatan untuk menyambangi pagelaran rekonstruksi sejarah ini. Untuk tahun ini, pagelaran rekonstruksi sejarah di MSJ ini menampilkan kisah Petrus Albertus Van Der Parra, seorang Gubernur Jenderal yang berkuasa dari tahun 1761 hingga tahun 1775. Pagelaran rekonstruksi sejarah ini sendiri dibawakan oleh Bengkel Teater Tempo Doeloe (BTTD), yang berasal dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Acara pagelaran rekonstruksi sejarah ini dimulai dengan pembacaan sinopsis oleh G. Yoga Mandira. Dalam sinopsisnya, disebutkan bahwa gubernur jenderal satu ini dianggap sebagai penyebab kebangkrutan VOC, karena sifatnya yang korup dan senang berfoya-foya. Sementara rakyatnya dibiarkan hidup kelaparan. Van Der Parra bisa naik ke dalam tampuk kekuasaan sebagai Gubernur Jenderal dikarenakan hubungan keluarga dan kerabat. Hal ini menyebabkan pemerintahannya terlihat sangat kuat di luar, namun rapuh di dalamnya.
Akibat kebiasaan yang korup dan senang berfoya-foya, banyak sekali usaha untuk menjatuhkan pemerintahannya ketika itu, salah satunya adalah dengan mengirimkan surat ke Dewan 17 (pemilik saham VOC di Belanda) agar menurunkan Van Der Parra sebagai Gubernur Jenderal. Upaya yang lainnya adalah percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa orang, baik yang berada di pemerintahannya maupun di luar pemerintahannya. Namun berbagai upaya tersebut gagal, hingga akhirnya Van Der Parra meninggal pada tahun 1775 karena sakit parah.
Setelah pembacaan sinopsis, pemain yang memerankan Van Der Parra pun naik ke atas balkon museum. Ketika sang gubernur di atas balkon, para pemain teater yang berperan sebagai rakyat pribumi berteriak-teriak menentang Van Der Parra. Van Der Parra kemudian memerintahkan para pasukan opas untuk menangkap orang-orang yang menentangnya. Uniknya, pakaian para opas ini hanya memakai pakaian biasa saja. Bengkel Teater Tempo Doeloe (BTTD) memang sengaja tidak membuat pasukan opas yang mirip seperti tentara Belanda di abad ke 18.
“Ini sebagai personifikasi terhadap para opas tersebut yang memang orang-orang Indonesia, pengkhianat bangsa yang melindungi para koruptor,” kata G. Yoga Mandira, atau yang akrab dipanggil Yoga. Ia juga adalah pemimpin proyek untuk pagelaran rekonstruksi sejarah tahun ini di MSJ. Menurutnya, korupsi adalah mental tidak berbudaya dan merupakan bagian dari kolonialisme.
Dalam adegan rekonstruksi sejarah tersebut juga ditampilkan berbagai tindakan represi yang dipraktekkan oleh pasukan opas kepada rakyat pribumi, seperti pemukulan hingga penculikan para perempuan pribumi. Beberapa adegan juga menampilkan usaha Van Der Parra untuk menangkap beberapa orang yang berusaha membunuhnya, termasuk ajudannya sendiri yang berusaha membunuhnya. Usaha-usaha pembunuhan itu bukannya tanpa hasil, karena walaupun gagal, salah satu usaha pembunuhan tersebut menyebabkan Van Der Parra sakit parah, yang akhirnya membuat ia meninggal.


Pagelaran Rekonstruksi Sejarah ini sangat menarik bagi masyarakat yang ingin mengetahui berbagai kisah sejarah yang terkait dengan Jakarta. Sayangnya, pagelaran rekonstruksi sejarah ini hanya diadakan selama 2 hari saja. Jika anda tertarik untuk mengetahui berbagai kisah sejarah mengenai Jakarta, silakan kunjungi pagelaran rekonstruksi sejarah di tahun depan. (perspektifnews)